Langsung ke konten utama

Resikomu

Dulu, sebelum kau memasuki cerita ini.
Aku sudah pernah berkata,

"Harus terima resiko saat kamu berani menyukai seorang penulis."

Karena namamu dan cerita tentangmu.
Akan terus terabadikan dalam tulisanku.
Walaupun kita sudah tidak bersama.
Walaupun kita sudah bukan aku dan kamu.

Jangan lelah menyukai seseorang sepertiku.
Jangan lelah berbagi cerita bersamaku.
Jangan lelah menebar kerecehan denganku.

Jangan tiba-tiba pergi sendiri.
Saat aku sedang menunggumu.
Pamitlah baik-baik.
Aku tidak marah.

Sesungguhnya tidak ada orang yang jahat di dunia ini.
Yang ada hanya orang yang salah.

Aku selalu menerima dan mendukung semua keputusanmu.
Kau ingin membuat cerita bersama orang lain pun aku tak apa.
Percayalah, aku selalu mendukungmu dari jauh.
Asal kau bicara baik-baik padaku.
Jangan tiba-tiba pergi dan hilang dari radarku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat ya, kamu hebat!

      Hari ulang tahun adalah hari yang ditunggu semua orang. Apalagi kalau orang itu memiliki banyak teman di sekitarnya. Seperti aku, aku adalah pengurus OSIS di SMA ku. Dan hari ini, tanggal 16 Januari aku berulang tahun. Aku senang karena aku memiliki banyak teman, aku juga senang karena memiliki seorang kekasih yang sangat peduli padaku. Sikapnya yang dingin kepada semua orang itu tidak berlaku untukku. Setiap hari ia selalu menggenggam tanganku, bertanya bagaimana perasaanku hari itu, apa saja hal yang menarik yang terjadi pada hari itu.     Jam dinding di ruang OSIS menunjukkan pukul 5 sore. Aku masih menunggu dia disini sampai dia menyelesaikan kelasnya. Teman-temanku yang lain sudah pamit setelah memberiku kejutan istimewa. Aku menatap layar ponselku, membuka kuncinya, mematikan layarnya, membuka kuncinya lagi, mematikan layarnya lagi, berulang-ulang entah sampai berapa kali. Aku menunggu pesan darinya.     Kini jam sudah menunjukkan pukul 6 s...

Aku Menyukaimu

     Selama 3 tahun kita berada dalam satu kelas yang sama. Ketika berada di kelas kita sangat dekat karena memang selalu saja ada topik pembicaraan yang membuat kita tanpa sadar sampai lupa waktu. Ternyata banyak kesamaan antara kita berdua. Sampai pada akhirnya entah kapan sesuatu itu muncul, aku mulai menyadarinya. Namun aku belum berani memberi tahumu sampai waktu yang tepat. Mungkin sebelum hari kelulusan.      Sampai pada akhirnya, hari itu tiba. Hari dimana aku sudah tidak bisa menahan semuanya. Sudah terlalu lama aku menyimpannya sendiri. Aku ingin memberitahumu apapun jawabanmu. Tapi aku sedikit khawatir, aku khawatir apa kita masih bisa bersikap seperti biasa? Sebelum aku melakukan hal ini. Kini pikiranku dipenuhi oleh bagaimana cara memberitahumu tentang perasaanku.      Aku mengajakmu bertemu sore ini di sebuah taman bermain yang berada dekat sekolah kita. Disana ada permainan anak-anak, ayunan, jungkat jungkit dan yang lainnya. ...

Cerita Dari Mimpi (Pamit)

Semalam kau datang lewat mimpi. Padahal sudah lama kita tidak saling sapa. Kau dengan dunia barumu, aku juga. Kau masih ingat aku takut hantu. Sifat jahilmu kembali muncul, kau ambil kain putih, lalu kau tutupi kepalamu. Dengan ekspresi konyol yang menurutku tidak seram, hanya saja keadaan saat itu malam hari, membuat bulu kudukku berdiri. Kau mendekat kepadaku, berharap aku teriak atau kabur darimu. Tapi tidak, aku justru memasang wajah datar menanggapi tingkah lakumu. Padahal, jantung seperti ingin melompat keluar. "Deg-degan ya?" tebakannya tepat sasaran. "Enggak, jayus banget," kilahku. "Cih, berkilah. Masih aja takut hantu. Padahal udah aku motivasi berkali-kali lawan rasa takutmu." "Siapa yang takut hantu??" Pertanyaan ini terdengar seperti aku menantang ya? Dasar. "Padahal hantu juga males deketin kamu, mukamu kan gak ada ekspresinya. Justru bisa jadi mereka yang takut kamu." Aku memutar bola mataku malas, m...